Saya Membangun SCH Karena Saya Mengalami Masalah Ini Sendiri
Sebelum SCH menjadi sebuah produk, saya menggunakannya sendiri selama sekitar 3 bulan untuk menjalankan prospecting jasa website.
Mulai dari prospecting
Saya menjalankan prospecting untuk mencari bisnis yang berpotensi membutuhkan website.
Prospek mulai menumpuk
Dalam proses itu, saya akhirnya mengelola lebih dari 1.000 prospek dalam satu workflow.
Masalah sebenarnya bukan menemukan prospek
Ketika jumlah prospek bertambah, masalah yang muncul berbeda: siapa yang sudah dikirimi demo, siapa yang sudah melihat, siapa yang harus di-follow-up hari ini, mana yang masih berpotensi.

Maka saya mulai membangun sistem
Saya tidak ingin membuat CRM biasa. Saya ingin sistem yang memahami alur dari menemukan calon klien sampai follow-up.
Digunakan sendiri sebelum dijual
SCH tidak dimulai sebagai produk yang langsung dijual. Fitur-fiturnya dibangun dari masalah yang ditemui selama proses itu sendiri.
Hasilnya, setelah sekitar 3 bulan

Data operasional internal founder, bukan rata-rata hasil pengguna SCH.
Yang saya pelajari
Prospecting bukan cuma soal menemukan prospek. Semakin banyak yang masuk, semakin besar kebutuhan mengelolanya -- itu alasan SCH dibangun.
Sekarang dibuka untuk Anda
Sistem yang sama sekarang dijadikan platform untuk agency dan freelancer yang ingin membangun workflow prospecting mereka sendiri.