Saya Membangun SCH Karena Saya Mengalami Masalah Ini Sendiri

Sebelum SCH menjadi sebuah produk, saya menggunakannya sendiri selama sekitar 3 bulan untuk menjalankan prospecting jasa website.

01

Mulai dari prospecting

Saya menjalankan prospecting untuk mencari bisnis yang berpotensi membutuhkan website.

02

Prospek mulai menumpuk

Dalam proses itu, saya akhirnya mengelola lebih dari 1.000 prospek dalam satu workflow.

1.027
Prospek
03

Masalah sebenarnya bukan menemukan prospek

Ketika jumlah prospek bertambah, masalah yang muncul berbeda: siapa yang sudah dikirimi demo, siapa yang sudah melihat, siapa yang harus di-follow-up hari ini, mana yang masih berpotensi.

Layar follow-up SCH
76
Perlu Ditindak
04

Maka saya mulai membangun sistem

Discover→Prospek→Buat Demo→Kirim→Tracking→Follow-Up→Pipeline→Deal

Saya tidak ingin membuat CRM biasa. Saya ingin sistem yang memahami alur dari menemukan calon klien sampai follow-up.

05

Digunakan sendiri sebelum dijual

SCH tidak dimulai sebagai produk yang langsung dijual. Fitur-fiturnya dibangun dari masalah yang ditemui selama proses itu sendiri.

06

Hasilnya, setelah sekitar 3 bulan

Dashboard utama SCH setelah sekitar 3 bulan
1.027
Prospek
23
Deal
76
Perlu Ditindak
324
Total Kunjungan Demo

Data operasional internal founder, bukan rata-rata hasil pengguna SCH.

07

Yang saya pelajari

Prospecting bukan cuma soal menemukan prospek. Semakin banyak yang masuk, semakin besar kebutuhan mengelolanya -- itu alasan SCH dibangun.

08

Sekarang dibuka untuk Anda

Sistem yang sama sekarang dijadikan platform untuk agency dan freelancer yang ingin membangun workflow prospecting mereka sendiri.